Praktik Oligarki Terhadap Media Informasi dan Pengaruhnya Terhadap Penyebaran Informasi di Indonesia
![]() |
| Gambar oleh Joseph Mucira https://pixabay.com/id |
Setelah sekian lama merdeka, dalam
kehidupan berbangsa dan bernegara kegiatan perekonomian di Indonesia menganut
Sistem Ekonomi Pancasila. Sistem ekonomi Pancasila pada hakikatnya didasari
pada demokrasi pancasila yang sesuai dengan kepribadian dan kondisi masyarakat
Indonesia. Dalam pelaksanannya, sistem ini menitikberatkan nilai kebangsaan
seperti gotong royong dan saling menguatkan. Namun, semakin berkembangnya
zaman, sistem ini semakin ditinggalkan
dan sistem ekonomi pada masa ini lebih condong pada arah sistem kapitalis yang
tidak sejalan dengan prinsip berbangsa dan bernegara bangsa ini. Hal ini
dikarenakan dalam pelaksanaannya, sistem ekonomi kapitalis sendiri hanya akan
menguntungkan sejumlah pihak saja yang memiliki modal lebih besar. Nilai
kebangsaan seperti gotong royong dan saling menguatkan hanya akan menjadi omong
belaka dan tidak akan di implementasikan. Kenyataan di lapangan banyak terjadi
persaingan tidak sehat guna mempertahankan eksistensi sejumlah pihak.
Sistem ekonomi sendiri berpengaruh pada
segala aspek yang ada dalam sebuah negara. Salah satu aspek penting berdirinya
suatu negara adalah pers. Pers sendiri
merupakan sarana yang berfungsi sebagai media informasi, pendidikan dan kontrol
sosial. Oleh karena itu, pers memiliki peran yang sangat penting dalam sebuah
negara dan semakin bertambahnya zaman pers sendiri dipandang sebagai sumber
perekonomian atau bisnis yang menjanjikan bagi sejumlah pihak. Hal ini
dikarenakan pers sebagai media penghubung antara masyarakat dan dunia luar
mempunyai aspek yang tinggi dalam kehidupan dan timbullah berbagai media
Informasi baru yang dimiliki perseorangan/swasta dengan ciri khasnya
masing-masing. Media Informasi yang sering digunakan dikalangan masyarakat
adalah media massa televisi dan juga radio. Akan tetapi, dengan semakin berkembangnya
waktu radio semakin ditinggalkan oleh para peminatnya dan hanya televisi yang
masih bertahan dan memiliki prospek yang menjanjikan di era sekarang. Walaupun
dapat bertahan, televisi juga mulai terancam karena para audiensnya mulai
beralih pada layanan tontonan streaming berbasis aplikasi.
Selain menjadi sarana informasi, media juga memiliki fungsi lain yaitu sebagai sarana promosi dan sarana untuk mencurahkan karya-karya seni seperti film, drama, kartun dan masih banyak lagi. Media pada era ini memiliki pengaruh besar dalam kehidupan masyarakat. Seperti yang sudah disampaikan sebelumnya salah satu fungsi dari media adalah kontrol sosial. Kontrol sosial yang dilakukan melalui media memiliki pengaruh besar dalam kehidupan sehari-hari. Konten dan informasi yang disampaikan melalui media akan berdampak besar bagi pandangan para audiensnya yaitu masyarakat. Pandangan positif dan negatif tentunya tidak hanya mengenai hiburan saja akan tetapi juga mengenai kinerja pemerintah dalam menjalankan negara. Tidak hanya memengaruhi perspektif masyarakat, media juga dapat memangaruhi kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah maupun pejabat negara. Oleh karena itu, peran media dalam hal ini sangat berperan juga bagi pemerintah untuk melakukan introspeksi dalam melakukan kinerjanya. Namun, alih-alih sebagai negara demokrasi. Negara Indonesia tidak dapat membatasi praktik demokrasi yang ada, terutama perihal mengungkapkan pendapat seperti kritik keras terhadap pemerintah. Sehingga media di era ini, kebanyakan sudah ditunggangi oleh politik dan kepentingan terselubung bagi pihak tertentu, hal tersebut bisa disebut dengan oligarki.
Praktik yang sering terjadi dalam sisi
kelam media di Indonesia adalah praktik oligarki. Menurut Wikipedia, Oligarki
adalah Oligarki adalah bentuk struktur kekuasaan di mana kekuasaan berada
di tangan segelintir orang. Kepemilikan media di Indonesia di dominasi oleh para
pengusaha yang semakin harinya ikut merambah ke partai politik. Secara tidak
langsung media yang dimiliki oleh oknum-oknum tersebut juga menampilkan dan
mempromosikan hal-hal yang berbau politik baik terutama kegiatan politik pihak
koalisi oknum-oknum tersebut. Pada masa-masa menjelang pemilu sekarang oligarki
dalam dunia kepemilikan media di Indonesia kian marak terjadi. Hal tersebut
tentunya berpengaruh terhadap isi pemberitaan Informasi yang disampaikan kepada
masyarakat. Informasi yang disampaikan
terkadang sering memiliki banyak simpang siur, tidak aktual dan tidak berimbang
sehingga dapat membuat audiensnya yaitu masyarakat mengalami kebingungan. Hal
ini dikarenakan praktik oligarki media di Indonesia terbagi atas kedua belah
pihak yang saling berselisih yaitu pihak pro pemerintah dan pihak kontra
pemerintah.
Pihak pro pemerintah lebih sering
memberitakan mengenai kinerja positif yang dilakukan pemerintah dan segala hal
yang berbau kebaikan yang dilakukan oleh pemerintah. Sementara itu, pihak yang
kontra dengan pemerintah sering memberitakan kinerja yang buruk, kondisi negara
yang tidak baik, dan sering mengkritisi pemerintah. Jika ditinjau dari sisi
positif, hal tersebut tentunya dapat menjadi keseimbangan informasi yang berisi
kenyataan yang sebenarnya terjadi di lapangan. Akan tetapi kedua pihak tersebut
baik pro maupun kontra pemerintah sudah ditunggangi dengan kepentingan politik
yang ada. Pihak pro membuat seakan negara yang dikelola pemerintahan pihaknya
merupakan negara yang memiliki citra yang baik. Pihak tersebut membuat
informasi yang bertujuan meningkatkan kepercayaan publik kepada kekuasaan yang ada dalam pemerintahan.
Sedangkan, pihak kontra biasanya memberitakan informasi yang menjelek-jelekkan
pemerintah agar kepercayaan publik kepada pemerintah turun. Namun, pihak kontra
ini biasanya ditunggangi pihak pihak tertentu dengan tujuan utamanya yaitu
menjatuhkan maupun menggulingkan kekuasaan pemerintah yang sedang berkuasa.
Praktik oligarki pada konteks ini pada dasarnya memang dilatar belakangi pada kepentingan politik dan keuntungan dari segi ekonomi. Pihak yang memiliki kekuasaan yang lebih besar akan melakukan oligarki pada media guna mencapai kepentingan politiknya. Media massa yang dikontrol dalam praktik oligarki sendiri juga mendapat keuntungan yang mereka dapatkan. Media sendiri tidak dapat bergantung pada keuntungan yang diambil dari iklan saja. Media melakukan hal tersebut guna mempertahankan media tersebut karena pemasukan pembiayaan media juga berpengaruh besar bagi sebagian orang. Media massa yang dikontrol oleh oligarki juga merupakan lapangan kerja bagi sejumlah orang dan bisa saja oligarki ini digunakan untuk modal untuk mengembangkan media tersebut untuk lebih baik kedepannya. Praktik oligarki memang sangat menguntungkan bagi pihak-pihak tersebut. Namun, tidak dengan masyarakat. Masyarakat dalam hal ini merupakan korban ketidak tahuan apa-apa yang dilakukan oleh orang-orang yang berkuasa. Komnas HAM sendiri berpendapat bahwa masuknya oligarki dalam hasil proses politik sangat berpengaruh terhadap tingkat kesejahteraan masyarakat pada masa yang akan datang. Artinya, akan berdampak bagi pemenuhan hak asasi manusia. Selain itu, oligarki juga dapat menggunakan media massa yang mereka kontrol untuk mengontrol dan membatasi akses masyarakat terhadap informasi yang bersifat kritis terhadap kekuasaan mereka. Hal ini dapat membatasi kebebasan pers dan menghambat kemampuan masyarakat untuk membuat keputusan yang didasarkan pada informasi yang akurat dan berimbang.
Kesimpulan
yang saya dapat adalah Oligarki memang hal yang tidak baik jika dilakukan dalam
praktik politik. Akan tetapi, dilihat dari sudut pandang yang lain, oligarki tidak semata-mata memiliki
dampak negatif saja. Oligarki sangat besar pengaruhnya terhadap informasi yang
disampaikan saat ini. Apalagi menjelang pesta demokrasi yaitu Pemilu 2024. Masyarakat
dalam hal ini memang harus lebih selektif lagi dalam menelaah sebuah informasi
yang disajikan oleh media pada era ini. Media dalam hal ini juga harus berhati-hati
dalam mengolah informasi. Jika media melakukan penyebaran informasi yang tidak
aktual, tidak berimbang dan hanya memberikan informasi mengenai kepentingan
pihak mereka saja yang diatur oleh oligarki, Masyarakat akan hilang kepercayaan
terhadap media massa dan hal hal tersebut juga dapat berdampak negatif pada keseimbangan
bangsa dan negara. Dikarenakan bila hal itu terjadi dapat disalahgunakan oleh sejumlah
pihak untuk menyebarkan berita hoax yang dapat memiliki dampak sosial, ekonomi, politik, keamanan dan yang lebih besar
adalah bisa mengancam keutuhan negara. Tidak hanya itu, dampak lainnya adalah
hal tersebut dapat memengaruhi pola pikir masyarakat yang dapat berakibat fatal
bagi kelangsungan negara. Pemerintah juga harus memberikan solusi berupa memiliki
sistem yang adil dan transparan yang memastikan persaingan yang sehat dan
memberikan kesempatan yang sama bagi semua orang untuk berpartisipasi dalam
ekonomi. Selain itu, pemerintah harus memastikan bahwa kekuatan dan pengaruh
oligarki terbatas dan bahwa tidak ada kekuatan yang terlalu besar dalam
perekonomian agar keutuhan dan keberlangsungan negara tidak terancam.

Komentar
Posting Komentar